
VIVAnews - Kelompok demonstran anti-pemerintah Thailand melemparkan kantong plastik berisi darah ke kompleks kediaman Perdana Menteri Abhisit Vejjajiva, Rabu 17 Maret 2010.
Mereka berharap taktik tersebut bisa membubarkan pemerintah yang berkuasa saat ini.
Beberapa ribu pengunjuk rasa kemudian berkumpul di depan Kedutaan Amerika Serikat (AS) di Bangkok. Kelompok Kaos Merah tersebut ingin memberitahu komunitas internasional bahwa pemerintah mereka tidak sah. Seorang pemimpin unjuk rasa, Jatuporn Prompan, masuk ke dalam kompleks kedutaan. Menurut Jatuporn, dia akan berbicara dengan diplomat AS.
Polisi anti huru-hara awalnya berhasil mencegah massa untuk tidak mendekati kompleks kediaman Abhisit. Namun setelah negosiasi, sekitar 30 puluh demonstran dibiarkan menyusup melalui barisan petugas sambil membawa sekitar enam tempat air berukuran lima liter terbuat dari plastik yang berisi darah.
Mereka menumpahkan darah di gerbang depan kompleks dan memasukkan sebagian darah ke kantong plastik yang kemudian mereka lemparkan ke arah rumah, sehingga membuat dinding, atap, dan tanah berwarna merah.
Peristiwa yang terjadi sore hari ini berakhir saat pertumpahan darah berhenti. Noda merah darah membekas di jalan dan segera dibersihkan oleh para petugas berpakaian putih. Beberapa petugas memanjat atap rumah Abhisit untuk mengambil kantong-kantong bekas darah.
Aksi pertumpahan darah di area Sukhumvit Road, tempat tinggal para ekspatriat dan orang-orang kaya Thailand, ini terjadi satu hari setelah peristiwa serupa terjadi di kantor Abhisit dan markas besar Partai Demokrat. Aksi dramatis ini menarik perhatian, tetapi tidak mendekati tercapainya tujuan utama kelompok Kaos Merah untuk memaksakan digelarnya pemilihan umum.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 Response to "Rumah PM Thailand Disiram Darah"
Post a Comment