
MOJOKERTO - Aksi rusuh dan unjuk rasa yang menyertai proses pemilihan kepala daerah (pilkada) sering terjadi. Tapi, aksi rusuh dan unjuk rasa yang terjadi di Kabupaten Mojokerto kemarin pagi (21/5) bisa jadi adalah yang terparah di Indonesia, setidaknya selama setahun terakhir ini.
Bom molotov diobral, puluhan mobil dinas dibakar, dan beberapa aparat kepolisian juga menjadi korban keberingasan massa.
Kerusuhan itu berawal dari kedatangan massa secara bergelombang ke gedung DPRD Kabupaten Mojokerto sejak sekitar pukul 08.30. Saat itu di gedung wakil rakyat tersebut digelar acara penyampaian visi dan misi para calon bupati-wakil bupati.
Pilkada di Kabupaten Mojokerto kali ini diikuti tiga pasangan calon. Nomor urut satu adalah pasangan Mustofa Kamal Pasa dan Choirun Nisa' (Manis) yang diusung tujuh partai (PKB, PPP, PKS, PAN, PKPB, PBB dan Patriot). Nomor urut dua, pasangan Suwandi (incumbent) dan Wahyudi (Wasis) yang diusung PDIP, Golkar, dan Demokrat. Nomor urut tiga dari jalur independen: Khoirul Badik dan Yazid Kohar (Kokoh).
Sebenarnya ada satu pasangan lagi yang sudah memenuhi syarat dari sisi dukungan partai politik. Mereka adalah KH Dimyati Rosyid dan M. Karel. Tapi, keduanya dicoret KPUD karena tak lolos tes kesehatan.
Pencoretan tersebut membuat marah pendukung Dimyati. Sejak pencoretan itu, aksi unjuk rasa menentang keputusan KPUD sering terjadi. Dan, kerusuhan yang terjadi kemarin diyakini merupakan rentetan dari aksi unjuk rasa sebelumnya. Itu terlihat dari poster-poster yang dibawa sejumlah pengunjuk rasa yang menuntut pilkada agar distop atau ditunda.
Sejak pukul 08.30 massa mulai datang di gedung DPRD Kabupaten Mojokerto. Saat itu, di dalam gedung dewan, pasangan Manis menyampaikan visi dan misinya.
Selanjutnya, pasangan incumbent (Wasis) menyampaikan visi dan misi. Saat itulah kegaduhan dari luar gedung mulai terjadi. Massa yang datang semakin banyak hingga mencapai ratusan orang. Mereka merangsek ke gerbang barat gedung DPRD.
Sebenarnya aparat kepolisian sudah menghalau mereka. Awalnya upaya itu efektif. Tapi, massa yang datang semakin banyak sehingga aparat kepolisian kewalahan. Apalagi, saat itu massa mulai beringas dan berani menyerang aparat. Akhirnya pengunjuk rasa -beberapa di antara mereka membawa pentungan besi- berhasil menerobos penjagaan polisi.
Jalan masuk ke area gedung dewan dan pemkab semakin terbuka setelah massa melemparkan bom molotov secara membabi buta. Ada yang diarahkan ke petugas, ada juga yang dilemparkan ke gedung dewan.
Di halaman kantor pemkab massa merusak dan membakar mobil yang diparkir. Tak hanya mobil dinas (mobdin), namun juga mobil pribadi. Dengan menggunakan pentungan, massa merusak kaca mobil-mobil itu. Sebagian di antara mereka melempari kendaraan itu dengan bom molotov. Dengan cepat, mobil-mobil itu pun terbakar.
Massa juga melemparkan bom molotov ke kantor bagian keuangan dan PDE. ''Bom molotov itu dilempar dari kaca ini. Kacanya pecah. Molotov masuk ke sini dan membakar dokumen keuangan ini,'' ungkap seorang pegawai bagian keuangan.
Sekelompok orang yang sebagian mengenakan penutup wajah itu terus melanjutkan aksi. Mereka berkeliling memburu mobdin (mobil dinas). Dari kantor bappeda, massa bergerak ke sebelah kantor bagian keuangan. Beberapa mobil yang diparkir di dekat masjid dibakar. Termasuk mobdin badan legislasi (banleg) yang dibeli tahun ini.
Mobdin Wakil Ketua DPRD Kabupaten Mojokerto Syaiful Fuad dan mobil Wawali Kota Mojokerto Mas'ud Yunus yang ditinggal menghadiri undangan penyampaian visi dan misi juga tak luput dari serangan massa.
Mobil Syaiful rusak parah dan mobil Wawali Mojokerto terbakar.
''Semua ada 33 mobil yang rusak parah. Yaitu, 25 unit mobil dinas dan delapan unit mobil pribadi. Di antara jumlah itu, 12 unit terbakar dan yang lain rusak,'' ungkap Kabaghumas Setdakab Mojokerto Alfiah Ernawati.
Aksi massa itu pun berusaha dihalau aparat kepolisian. Akhirnya, aparat berhasil memukul mundur massa. Dalam waktu yang bersamaan, polisi mengamankan puluhan orang yang terlibat dalam kerusuhan tersebut.
Untuk memadamkan api yang melalap mobil-mobil itu, didatangkan dua unit mobil pemadam kebakaran dari Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kabupaten Mojokerto.
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Mojokerto Syaiful Fuad menyampaikan, meskipun terjadi kerusahan di luar gedung, pelaksanaan penyampaian visi, misi, dan program pasangan calon terus berjalan. Seluruh pasangan calon menyampaikan visi dan misinya hingga selesai. ''Soal kejadian tadi, ya kami prihatin,'' katanya.
Dimyati dan Arkam Bantah Terlibat
Dimyati Rosyid, bakal calon bupati yang gagal maju, membantah pihaknya disebut-sebut terlibat dalam kerusuhan itu. Dia menegaskan, jauh-jauh hari, dirinya sering mengimbau kepada para pendukungnya agar tidak bertindak anarkis.
Imbauan agar pendukungnya tidak anarkis kali pertama dilontarkan saat pengumuman penetapan pasangan calon di kantor KPU Kabupaten Mojokerto. ''Setengah bulan lalu, kami juga membuat 30 ribu selebaran agar para pendukung tidak bertindak anarkis,'' tegasnya.
Dengan penjelasan tersebut, Dimyati siap mengambil langkah tegas kalau ada pihak yang mengaitkan dirinya dengan kerusuhan itu. ''Kalau ada pihak yang menuding saya berada di balik aksi itu, saya siap menuntut balik,'' ujarnya.
Bantahan juga dilontarkan Koordinator Aliansi Rakyat Kabupaten Mojokerto (Arkam) Sugiantoro. Dia menyatakan, aksi anarkis yang mengakibatkan beberapa mobil terbakar dan menimbulkan korban luka itu tidak berkaitan dengan Arkam. Meski, sehari sebelumnya, Arkam sempat berdemo untuk menuntut tahap Pilbup 2010 dihentikan.
''Saya tidak terlibat. Arkam tidak terlibat aksi itu. Untuk pemberitahuan aksi hari ini (kemarin), itu bukan Arkam, namun pemberitahuan dari LPR. Itu juga tidak berkaitan dengan Gus Dim (panggilan akrab Dimyati),'' ungkapnya.
Memang, dalam aksi di kantor dewan sebelumnya, sempat terlontar ancaman pembakaran kalau para pendemo tidak ditemui pimpinan dewan. Terkait dengan ancaman tersebut, Sugiantoro mengungkapkan bahwa itu sekadar ancaman yang biasa muncul dalam demo. ''Namun, ancaman itu tidak dilakukan,'' tegasnya.
Pernyataan Mendagri
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi menyatakan keprihatinannya atas kerusuhan di Mojokerto. Dia menyesalkan massa dari salah satu bakal calon kepala daerah yang tidak puas telah melakukan perusakan dan bertindak anarkistis.
Melihat skala kerusuhan dan besarnya kerugian dalam insiden tersebut, Gamawan berani menyatakan insiden Mojokerto sebagai kerusuhan pilkada terbesar yang pernah terjadi beberapa waktu belakangan ini. ''Setahu saya memang begitu. Maka, saya sangat prihatin,'' kata Gamawan dalam pesan singkat (SMS) kepada Jawa Pos tadi malam (21/5).
Menurut mantan gubernur Sumatera Barat itu, reformasi memang membuka peluang kebebasan dan demokrasi, termasuk di daerah. Tetapi, dia meminta kebebasan tersebut selayaknya dilaksanakan dengan ketaatan pada aturan hukum yang berlaku. ''Semoga kejadian itu tak terjadi lagi di daerah lain,'' harapnya.
Gamawan mengapresiasi tindakan yang diambil kepolisian untuk meredam kerusuhan tersebut. ''Proses secara hukum bila ada pelanggaran yang dilakukan siapa pun dalam kejadian itu,'' tuturnya.
Kepala Pusat Penerangan Kemendagri Saut Situmorang menambahkan, kerusuhan tersebut menjadi pelajaran bagi semua daerah. Selain itu, pihaknya meminta kepada para penyelenggara pemilu agar tetap bertindak tegas. ''Kalau ada yang tidak lolos, ya jangan diloloskan,'' katanya kemarin.
Dia mengungkapkan, Kemendagri tidak akan bertindak lebih jauh dalam kerusuhan itu. Sebab, semuanya adalah kewenangan lembaga pemilu. Pihaknya tidak mau dianggap terlalu mencampuri. ''Itu kan kasus pemilu. Domainnya ya lembaga pemilu,'' jelasnya. (abi/ron/ris/yr/jpnn/kuh/c5/c7/dwi/kum)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 Response to "Aksi Anarkis Pilkada Mojokerto"
Post a Comment